BeritaSatu - Gaya Hidup: Saatnya Kain Negeri untuk Busana Siap Pakai

BeritaSatu - Gaya Hidup: Saatnya Kain Negeri untuk Busana Siap Pakai

BeritaSatu - Gaya Hidup
// via fulltextrssfeed.com
Saatnya Kain Negeri untuk Busana Siap Pakai
May 18th 2013, 05:55

Kain Negeri, inilah tema yang diangkat 10 perancang busana yang tergabung dalam Ikatan perancang Mode Indonesia (IPMI) .

Sepuluh perancang itu adalah Era Soekamto, Tri Handoko, Kanaya Tabitha, Carmanita, Didi Budiardjo, Yongki Budisutisna, Denny Wirawan, Tuty Cholid, Liliana Lim, dan Barli Asmara.

"Ini komitmen kami pada Jakarta Fashion and Food Festival akan selalu mengangkat dan mengolah produk kerajinan tekstil Indonesia," kata Syamsidar Isa, Pembina IPMI.

Ya, siapapun tahu, keelokan Indonesia tidak hanya terletak pada indahnya ragam flora dan fauna, serta alamnya, tetapi juga pada keindahan kain-kain tradisionalnya yang berasal dari Sabang sampai Merauke.

Tak heran bila para desainer itu jatuh cinta dan menyajikannya menjadi busana siap pakai yang memesona siapapun yang melihatnya.

Simak saja, Era Soekamto mengangkat batik dari kota Bojonegoro. "Bojonegoro sebetulnya tidak memiliki batik, tetapi seperti kota lainnya, mereka akhirnya juga membuat batik dengan motif khas sendiri," jelas Era Sukamto.

Dari batik tersebut, Era membuat gaun-gaun anggun dengan konsep drapery. Era juga memainkan batik tersebut dengan bahan polos hitam dan dipadu brokat hitam. Hasilnya, koleksinya terlihat sangat edgy look.

Batik juga diangkat oleh Carmanita. Seperti biasanya, perancang ini mengolah batiknya sendiri, menjadi beragam bentuk, mulai gaun terusan, blus yang dipadukan dengan kain yang dililit, dan masih banyak lagi.

Sementara Yongki Budisutisna mengolah batik Cirebon dengan warna colorful dan gaya girlie. "Motif yang saya angkat adalah perpaduan ikat dibikin batik dan motif Jepang," ungkap Yongki.

Kampanye mempopulerkan kain sarung untuk busana sehari-hari dimanfaatkan Tri Handoko. Beragam warna dan motif garis sarung ia mainkan di sini. Tri pun memadukan sarung dengan jeans untuk tampilan yang lebih modern dan edgy. "Ini sesuai dengan gaya rancangan saya," kata Tri Handoko.

Tenun juga termasuk yang diangkat di sini, dan Denny Wirawan mengolah tenun songket Palembang menjadi gaun malam dan jaket-jaket.

"Songket yang saya angkat berbeda, saya menggunakan benang dari serat alam dan warna alam, sehingga warnanya pucat, beda dengan songket umumnya yang berwarna cerah," kata Denny.

Kecantikan tenun juga memikat Didi Budiardjo. Dan sudah dua tahun belakangan ini, Didi konsisten mengangkat tenun lunggi asal Sambas, Kalimantan.

"Lunggi adalah sebutan untuk kain songket di Sambas. ini binaan CTI-Garuda. Saya ingin tekankan perlunya penyebutan lunggi itu harus dipopulerkan karena beda. Saya kembangkan motif dengan pengaruh Budha di zaman majapahit, motif bunga teratai. Sementara benang emas yang biasanya dipakai, diganti perak untuk keperluan fashion karena kalau benang emas umumnya untuk busana kerajaan," kata Didi kepada Investor Daily.

Masih mengangkat tenun, Kanaya Tabitha juga mengolah tenun Kalimantan Timur bernama Ulat doyo.

"Tenun ulat doyo unik karena menggunakan serat alam dari tanaman sejenis anggrek hutan. Saya buat jadi dress atau sekadar aplikasi di atas bahan lain," jelas Kanaya Tabitha.

Sedangkan Liliana Lim mengangkat tenun ikat (endeg) dari Bali. "Saya mengaplikasikan tenun ikat dengan batu alam," kata Liliana.

Terakhir, Barli Asmara mengolah tie dye budaya Kalimantan dengan teknik bordir.

Sebuah Gerakan

Bukan hanya sebatas tema, Kain Negeri pada peragaan yang digelar Summarecon Kelapa Gading di Hotel Harris Kelapa Gading pada Senin (13/5) lalu juga menjadi sebuah gerakan.

"Kain Negeri adalah branding yang dibuat IPMI dan dicanangkan sejak 1987. Kami kosisten mengangkat kain daerah dan membina perajinnya. Ini salah satu tanggung jawab kami menjadikan kain negeri sebagai tuan rumah di negeri sendiri," kata Era Soekamto.

Ya, mereka berharap, kain negeri tidak dipakai sebatas sebagai kain untuk dipadukan dengan kebaya saja, tetapi penggunaannya bisa makin luas untuk busana siap pakai.

Memang, para perancang siap dan punya keahlian mengolah itu. Tetapi kembali lagi, bahan dasar kain negeri dibuat oleh para perajin di daerah.

Nah, mereka ini perlu dirangsang dan dibina agar tetap mau membuat kain dan dapat menghasilkan kain yang berkualitas tinggi.

Carmanita pun bercerita, dia dari perwakilan IMPI bersama Cita Tenun Indonesia (CTI) sudah ke Jambi, Riau, dan Garut untuk melatih dan membina para perajin tenun.

"Dulu kerajinan tenun Garut sempat mati, kini ada lebih dari 200 perajin. Jambi kami bina pewarnaan untuk benang, sehingga songket Jambi kini lebih menarik warnanya dan lebih halus. Kekayaan tekstil itu gak akan habis. Kami juga bikin motif batik Probolinggo. Memang Probolinggo gak bikin batik, seperti juga Betawi. Tapi motifnya ada. Tanggung jawab kami adalah membina dan membantu pendapatan mereka" tutur Carmanita.

Semua itu, kata Carmanita, mereka lakukan agar keahlian seni menenun dan membatik tidak hilang. Ya, faktanya, banyak permintaan berjumlah ribuan dari luar negeri untuk busana siap pakai menggunakan tenun atau batik.

"Tapi masalahnya untuk memenuhi keinginan pasar yang meminta ribuan jumlahnya, kita terhambat regenerasi perajinnya yang tak ada karena kurang perhatian dari pemerintah yang tak peduli dengan pentingnya regenerasi perajin," sesal Carmanita.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions



Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top