Jakarta - Alat musik bambu angklung telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda kemanusiaan oleh konvensi UNESCO. Maka dari itu, Indonesia berkewajiban untuk melindungi, memelihara, mempromosikan dan melestarikannya.
Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-China (LIC) memiliki tanggung jawab dalam hal tersebut. Maka dari itu bersama Komunitas Pecinta Angklung akan menyelenggarakan pagelaran "Grand Symphony Angklung, Warisan Budaya Menguntai Pesona" di Jakarta Theatre XXI, pada Minggu 19 Mei 2013.
Ketua Umum LIC Mayjen (Purn) Sudrajat mengatakan sebagai lembaga yang salah satunya berperan untuk mempromosikan kerjasama budaya Indonesia-Tiongkok, melihat angklung sebagai identitas Indonesia yang harus dilestarikan.
"Kita melihat bangsa lain yang menggebu ingin punya identitas, kalau perlu mengadopsi idetitas bangsa lain menjadi miliokinya. Bukan mustahil kalau diterlantarkan, akhirnya angklung akan menjadi identitas bangsa lain. Hal inilah yang membangun kepedulian saya terhadap angklung," jelas mantan duta besar RI di RRT saat konferensi pers di LIC Sahid Sudirman Tower Residence, Jakarta, Jumat (17/5).
Menurutnya, angklung sebagai musik dan seni penghalus budi. bisa dimainkan secara kelompok dan missal, sehingga dapat membangun jiwa korsa, disiplin, toleransi dan harmoni. Oleh karena itu, pihaknya mengajak menggelorakan angklung menjadi alat musik yang dimainkan dimana-mana sebagai identitas Indonesia.
Dalam konteks angklung sebagai seni musik Indonesia, akan sama kedudukannya dengan arbu (biola dua senar) sebagai alat musik tradisional Tiongkok. Masing-masing punya tanggung jawab untuk melestarikan nilai budayanya.
Tokoh pendidikan sekaligus Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arief Rachman, menjelaskan dunia sudah memberikan pengakuan angklung Indonesia sebagai warisan budaya untuk kemanusiaan. Sudah sepatutnya bangsa bertanggung jawab untuk melestarikan nilai budayanya.
"Angklung merupakan instrumen tradisi yang memiliki daya rekat identitas Indonesia. Maka angklung punya kekuatan yang dapat mempersatukan dan memperhalus kecerdasan emosional. Angklung yang telah diakui UNESCO menujukkan identitas musik Indonesia menjadi bangsa yang berdiplomasi kedamaian," ungkap dia.
Pagelaran ini menyajikan karya dan apresiasi seni angklung, yang mencangkup tradisional, modern dan digital dengan memainkan lagu-lagu dari penjuru dunia seperti lagu pop nasional, lagu daerah, barat dan lagu Tiongkok.
Sementara untuk pengisi acara akan diramaikan oleh musisi Dwiki Dharmawan Orchestra, Nazar Wildan, Dira Sugandhi, Dewi Githa dan Touch of Seven. Selain itu, symphony juga diramaikan oleh seniman sekaligus adik Presiden AS Obama, yakni Mark Obama. Ia berkenan ikut memeriahkan acara karena hubungan baik antara Indonesia, Tiongkok dan Amerika yang peduli terhadap budaya, kesenian dan alat-alat musik tradisional untuk dikembangkan dan dilestarikan.
Acara ini dapat terwujud karena partisipasi semua pihak dan dimotori Sudrajat. Dalam pagelaran ini, LIC dan Komunitas Pecinta Angklung mengundang beberapa tokoh nasional seperti Megawati, Gubernur DKI Jakarta, Pimpinan partai politik dan para duta besar. Hal ini bertujuan guna membangkitkan kesadaran dan kepedulian elite terhadap pelestarian angklung.