BeritaSatu - Hiburan: Pakar: Beli Batik "Print" Bukan Bentuk Pelestarian Budaya

BeritaSatu - Hiburan: Pakar: Beli Batik "Print" Bukan Bentuk Pelestarian Budaya

BeritaSatu - Hiburan
// via fulltextrssfeed.com
Pakar: Beli Batik "Print" Bukan Bentuk Pelestarian Budaya
May 22nd 2013, 12:20

Jakarta - Pakar batik sekaligus pemilik Galeri Batik Akik, Asmoro Damais, mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia harus mengerti makna dari kata pelestarian budaya, terutama budaya batik. Dia mengatakan, saat ini orang-orang menganggap bahwa dengan membeli batik print atau sablon, sudah sama juga dengan turut melestarikan budaya.

"Gangguan dari modernisasi adalah permasalahan batik saat ini, di mana banyak batik yang dibuat melalui proses printing dan sablon. Itu merupakan problema besar. Masyarakat harus tahu apa yang mereka pakai," ujar Asmoro, pada acara penghargaan Lomba Desain Batik oleh PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) di Kemang, Jakarta, Rabu (22/5).

Asmoro menegaskan bahwa batik itu adalah soal proses, bukan hanya motif saja. Oleh karena itu, menurut Asmoro, saat pertama kali dirinya diminta TBIG untuk menjadi juri pada salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka di bidang budaya, yang pertama kali dia tanyakan ke tim TBIG adalah "apa makna dari melestarikan budaya itu sendiri?".

"Saya sangat menghargai, saat mengetahui bahwa TBIG akan membuat seragam karyawannya dengan hasil karya pemenang kompetisi desain batik. Tapi, yang membuat saya lebih senang lagi, saat tahu mereka akan membuat seragam tersebut dengan cap, bukan print," ungkapnya.

Senada dengan Asmoro, Tumbu Ramelan, seorang kolektor batik dari Yayasan Batik Indonesia yang turut menjadi juri pada acara TBIG, mengaku sangat menyayangkan peran pemerintah yang lemah menghadapi permasalahan batik print.

"Saat ini, pengrajin batik di daerah-daerah kesejahteraannya terabaikan, karena mewabahnya batik print atau sablon di pasaran. Bukannya saya anti, tapi yang kita minta (adalah) ketegasan pemerintah, agar setiap batik print wajib diberi label 'Tekstil Motif Batik'. Karena mereka bukan batik, mereka hanya barang tekstil dengan motif batik," ujarnya.

Lebih jauh, Tumbu juga mengaku sangat kecewa dengan keleluasaan China menjual produk batik mereka di Indonesia, di mana harganya jauh lebih murah dari batik print produksi lokal.

"Harus ada ketegasan dan edukasi yang mendalam mengenai warisan berharga kita ini," tandasnya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions



Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top