Kamis, 19 Juli 2012 - 09:47:43 WIB
Richa Susanti, Buruh Migran Jadi Entrepreneur
Diposting oleh : d4nu - Dibaca: 340 kali
Ini kisah lain lagi soal BMI (Buruh Migran Indonesia) di Hongkong. Namanya Richa Susanti. Ia fokus membidik online shop untuk merambah pasar Hongkong. Di Indonesia ia juga membesarkan warung makan milik keluarga dengan konsep modern.
“Entrepreneur itu kreatif. Kreatifi tu bagaimana cara kita bisa menjual,” jelas Richa soal pemahamannya tentang entrepreneurship. Namun, setelah mengikuti pelatihan tahap dua Mandiri Sahabatku, BMI asal Malang itu didobrak perubahan. Gagasannya untuk menjadi pengusaha di tanah kelahiran mulai terpicu sejak setelah mengikuti pelatihan selama tiga bulan pelatihan, sejak Oktober 2011. Kini, ia mengubah konsep bisnis untuk mengembangkan usaha rumah makan modern.
Richa lantas berkisah. Pada 2005 lalu, ia menetap di Hongkong. Ia masuk melalui agen penyalur tenaga kerja Indonesia yang membuka cabang di Jawa Timur. Sudah empat kali kontrak kerja yang dilakukan Richa. Sebelumnya pada 1999-2001 Richa pernah bekerja sebagai buruh pabrik di Taiwan.
Anak pertama dari tiga saudara pasangan Saniyem (50) dan Supriady (62). Kedua orang tuanya sempat bangkrut dari usaha pengepul buah segar asal Malang. Tidak ingin terpuruk dalam kesedihan, ibunya bangkit untuk membuka usaha kecil-kecilan. Kini, ibunya membuka rumah makan di belakang kampus Universitas Muhammadyah Malang, Jawa Timur. Namanya warung Barokah. Begitu Richa menyebut lokasi usaha keluarganya itu “Warung makan modern!” kata Richa.
“Tadinya pengunjung warung makanannya disuguhkan. Sekarang sudah diubah. Caranya, setiap pengunjung bebas memilih lauk pauk dan menyendok nasi sendiri. Setelah itu baru dihitung untuk mematok harga,” terangnya.
Selain itu untuk mengembangkan usaha kuliner itu, ia mulai merambah jasa catering. Jenis cateringnya khusus lauk pauk untuk makanan karyawan. Teknik promosi dilakukannya dengan menyediakan kartu nama dan brosur untuk wadah komunikasi. “Penyebaran promosi bagian penting dalam mengembangkan usaha,” beber perempuan yang hobi membaca buku motivator seperti Mario Teguh itu.
Usaha kedua yang kini laris mendera Richa yakni on line shop. Ia melayani penjualan busana muslimah untuk BMI.Sebagai potensi besar untuk peluang pasar BMI Hongkong yang mencapai ratusan tibu orang menjadi sasaran target. Ada buju gamis, kerudung, jilbab dan aseoris lainnya di datangkan dari Indonesia.
Kecangihan jejaring Face Book dan katalog di handphone cukup menjadi alat untuk membantu berjualan. Untuk bisnisnya itu Richa membandrol harga senilai 200 HKD dan busana gamis muslimah 300 HKD. ”Itu bisnis tanpa modal karena hanya menjual tanpa memproduksi baju. Kalau ada pesanan janjian di pasar atau saat libur weekend barang diantar ke pelanggan,” akunya.
Mematangkan konsep usaha terus di asah Richa dengan bimbingan tim trainer dari Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC). Dengan begitu ketika pulang ke kampung halaman pada 2013 mendatang ia sudah merancang untuk segera action.
Misalnya ia juga menyiapkan usaha lainnya untuk memasok sayur di kompleks perumahan. Pasokan bahan diambil dari pasar subuh Bagar Rejo dengan sistem kulakan. “Saya tidak takut pulanbg ke Indonesia. Belajar dan mencoba itu sangat berarti untuk mengubah nasib kehidupan seseorang,” pungkasnya. (sumber: Indopos.co.id)
Diposting oleh : d4nu - Dibaca: 340 kali
“Entrepreneur itu kreatif. Kreatifi tu bagaimana cara kita bisa menjual,” jelas Richa soal pemahamannya tentang entrepreneurship. Namun, setelah mengikuti pelatihan tahap dua Mandiri Sahabatku, BMI asal Malang itu didobrak perubahan. Gagasannya untuk menjadi pengusaha di tanah kelahiran mulai terpicu sejak setelah mengikuti pelatihan selama tiga bulan pelatihan, sejak Oktober 2011. Kini, ia mengubah konsep bisnis untuk mengembangkan usaha rumah makan modern.
Richa lantas berkisah. Pada 2005 lalu, ia menetap di Hongkong. Ia masuk melalui agen penyalur tenaga kerja Indonesia yang membuka cabang di Jawa Timur. Sudah empat kali kontrak kerja yang dilakukan Richa. Sebelumnya pada 1999-2001 Richa pernah bekerja sebagai buruh pabrik di Taiwan.
Anak pertama dari tiga saudara pasangan Saniyem (50) dan Supriady (62). Kedua orang tuanya sempat bangkrut dari usaha pengepul buah segar asal Malang. Tidak ingin terpuruk dalam kesedihan, ibunya bangkit untuk membuka usaha kecil-kecilan. Kini, ibunya membuka rumah makan di belakang kampus Universitas Muhammadyah Malang, Jawa Timur. Namanya warung Barokah. Begitu Richa menyebut lokasi usaha keluarganya itu “Warung makan modern!” kata Richa.
“Tadinya pengunjung warung makanannya disuguhkan. Sekarang sudah diubah. Caranya, setiap pengunjung bebas memilih lauk pauk dan menyendok nasi sendiri. Setelah itu baru dihitung untuk mematok harga,” terangnya.
Selain itu untuk mengembangkan usaha kuliner itu, ia mulai merambah jasa catering. Jenis cateringnya khusus lauk pauk untuk makanan karyawan. Teknik promosi dilakukannya dengan menyediakan kartu nama dan brosur untuk wadah komunikasi. “Penyebaran promosi bagian penting dalam mengembangkan usaha,” beber perempuan yang hobi membaca buku motivator seperti Mario Teguh itu.
Usaha kedua yang kini laris mendera Richa yakni on line shop. Ia melayani penjualan busana muslimah untuk BMI.Sebagai potensi besar untuk peluang pasar BMI Hongkong yang mencapai ratusan tibu orang menjadi sasaran target. Ada buju gamis, kerudung, jilbab dan aseoris lainnya di datangkan dari Indonesia.
Kecangihan jejaring Face Book dan katalog di handphone cukup menjadi alat untuk membantu berjualan. Untuk bisnisnya itu Richa membandrol harga senilai 200 HKD dan busana gamis muslimah 300 HKD. ”Itu bisnis tanpa modal karena hanya menjual tanpa memproduksi baju. Kalau ada pesanan janjian di pasar atau saat libur weekend barang diantar ke pelanggan,” akunya.
Mematangkan konsep usaha terus di asah Richa dengan bimbingan tim trainer dari Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC). Dengan begitu ketika pulang ke kampung halaman pada 2013 mendatang ia sudah merancang untuk segera action.
Misalnya ia juga menyiapkan usaha lainnya untuk memasok sayur di kompleks perumahan. Pasokan bahan diambil dari pasar subuh Bagar Rejo dengan sistem kulakan. “Saya tidak takut pulanbg ke Indonesia. Belajar dan mencoba itu sangat berarti untuk mengubah nasib kehidupan seseorang,” pungkasnya. (sumber: Indopos.co.id)
'Richa Susanti, Buruh Migran Jadi Entrepreneur':
Artikel Bisnis Lainnya
- Entrepreneur Bisa Bahagia atau Kaya, Tapi Tidak Keduanya Umumnya entrepreneur yang kita jumpai tertarik berbisnis karena dua hal: passion yang begitu besar pada suatu bidang pekerjaan dan keinginan untuk lebih mandiri secara finansial. Yang kedua lebih banyak kita jumpai di kenyataan. Meski demikian, ... Artikel Bisnis
- Tujuh Tanda Anda Entrepreneur yang Berkomitmen Tinggi Aral dalam perjalanan seorang entrepreneurship menuju puncak sukses tak terhitung banyaknya. Bila Anda mengaku sebagai seorang entrepreneur tetapi memperlakukannya hanya sebagai pengisi waktu luang, bisa jadi Anda kurang memiliki komitmen yang tinggi. Ukurlah kadar komitmen ... Artikel Bisnis
- Tiga Jalan Mengumpulkan Modal Usaha Salah satu faktor penting yang diperlukan untuk membuka usaha adalah modal. Modal yang diperlukan untuk usaha biasanya terbagi menjadi tiga: Modal investasi awal, Modal kerja, dan modal operasional. Namun setelah mengetahui hal ini, beberapa orang malah makin pusing. "Menghitung ... Artikel Bisnis
- Bisnis sebagai Sarana Aktualisasi Diri Dalam buku berjudul “Peak: How Great Companies Get Their Mojo From Maslow” oleh Chip Conley dikemukakan sejumlah gagasan menarik mengenai dunia bisnis dan bagaimana menghubungkannya dengan pengembangan kepribadian orang-orang yang terlibat di dalamnya. ... Artikel Bisnis
- Bahaya Ketergantungan Kompetensi Merek dan Cara Mengatasinya Pertama-tama mari kita bahas apa itu ketergantungan kompetensi. Ketergantungan semacam ini lazim ditemui dalam dunia bisnis. Misalnya, sebuah perusahaan sudah banyak dikenal sebagai sebuah perusahaan yang erat dengan merek pasta gigi dan tidak memiliki kompetensi di ... Artikel Bisnis
Jual Beli Online
